Berdamai Dengan Alam

Zaman modern dengan berbagai kemajuan teknologi telah membawa manusia pada peradaban baru. Manusia dituntut untuk menghasilkan produk-produk dengan cepat. Cara-cara yang instant dilakukan untuk menghemat waktu dan biaya. Selain tenaga manusia yang diperas, mesin yang pengerjaannya lebih teratur menjadi andalan. Kota-kota bertambah besar dan desa-desa semakin ditinggalkan. Dampaknya ketidakseimbangan tatanan sosial mulai terasa di berbagai tempat. 

Di era seperti ini, cara berpikir manusia akhirnya menjadi sempit dan pragmatis. Hedonisme sebagai pandangan hidup telah menjalar dalam watak-watak sebagian besar masyarakat. Anggapan bahwa kebahagiaan hanya dapat diraih dengan jalan kepemilikan materi. Tidak banyak yang berpikir untuk kemaslahatan dan kebaikan bersama. Setiap individu berlomba-lomba untuk saling mengalahkan dalam pemenuhan kebutuhan masing-masing.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut membawa pada kebutuhan-kebutahan pokok yang berasal dari sumber daya alam. Sebagaimana bahan bakar untuk produksi pabrik-pabrik dan alat transportasi yang sudah tidak terhitung jumlahnya. Kebutuhan yang tidak sedikit ini berakibat eksploitasi besar-besaran yang akhirnya menggerus tatanan alam yang telah Allah ciptakan dengan penuh keteraturan. Sehingga keseimbangan alam pun juga mulai rusak dengan perlakuan yang tidak terkontrol tersebut.

Umat Islam yang meyakini al-Quran dan al-Hadist sebagai sebagai pedoman hidup harus memiliki sikap yang bijak terhadap hal ini. Melihat fenomena-fenomena alam yang ada, harus disadari dengan cepat bagaimana memberikan solusi. Karena umat terbaik adalah dengan tidak diam, tetapi penyeruan terhadap hal-hal yang ma’ruf dan pencegahan dari yang mungkar. Dan kesadaran tersebut sebenarnya telah Allah SWT jelaskan dalam beberapa ayat-ayatNya. Di antaranya dalam surat Ar-Rum ayat 41 Allah berfirman : 

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. 

Sayyid Qutub menjelaskan dalam tafsirnya bahwa munculnya berbagai kerusakan di bumi tidak terjadi dengan tiba-tiba begitu saja atau tanpa sebab. Tetapi merupakan hasil dari pengaturan Allah dan hukum-hukumnya. Kerusakan yang terjadi adalah akibat sebagian perbuatan manusia yang bercampur kejahatan-kejahatannya yang ada. Contohnya keadaan cuaca yang tidak menentu atau sebaliknya, cuaca yang ekstrim musim kemarau yang sangat kering yang diganti dengan musim penghujan dengan air yang meluap tidak terbendung. Berbagai bencana alam pun silih berganti di berbagai tempat. Itu semua jika dilihat dari penggambaran al-Quran adalah akibat dari ulah menusia sendiri. 

Buya Hamka dalam tafsirnya mempertegas sebab dari alam yang rusak adalah hati manusia yang telah rusak. Karena dari hati yang rusak berakibat niat yang jahat dan selanjutnya membekas pada perbuatan-perbuatan yang jahat pula. Setengah abad yang lalu, beliau telah memperingatkan tentang  kemajuan zaman yang tidak banyak artinya jika tidak diiringi dengan kedekatan jiwa dengan Allah SWt : 

“janganlah kita terpesona melihat berdirinya bangunan-banguan raksasa, jembatan-jembatan panjang, gedung-gedung bertingkat menjulang ke langit, manusia berhasil ke bulan… Janganlah dikatakan bahwa itu pembangunan, kalau kiranya jiwa bertambah jauh dari Tuhan. Terasa dan dikeluhkan oleh manusia seisi alam di zaman sekarang dalam kemajuan ilmu pengetahuan ini hidup mereka bertambah sengsara. Kemajuan teknik tidak membawa bahagia. Perang selalu mengancam. Perikemanusiaan tinggal dalam sebutan lidah, namun niat jahat bertambah subur hendak menghancurkan orang lain. Jarak dunia bertambah dekat, namun hati bertambah jauh….” 

“janganlah kita terpesona melihat berdirinya bangunan-banguan raksasa, jembatan-jembatan panjang, gedung-gedung bertingkat menjulang ke langit, manusia berhasil ke bulan… Janganlah dikatakan bahwa itu pembangunan, kalau kiranya jiwa bertambah jauh dari Tuhan. Terasa dan dikeluhkan oleh manusia seisi alam di zaman sekarang dalam kemajuan ilmu pengetahuan ini hidup mereka bertambah sengsara. Kemajuan teknik tidak membawa bahagia. Perang selalu mengancam. Perikemanusiaan tinggal dalam sebutan lidah, namun niat jahat bertambah subur hendak menghancurkan orang lain. Jarak dunia bertambah dekat, namun hati bertambah jauh….” 

Sebarkan lewat:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

×

Assalamualaiku Wr. Wb !

Silakan Hubungi Kami..

× Assalamu'alaikum...